Awal Mula Guidelight
"Karena kami percaya, jika umat muslim benar-benar menghayati Al-Qur’an, mereka akan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri —
dan dunia pun akan menjadi tempat yang lebih baik."
Indonesia Guidelight Project lahir dari keresahan sekelompok pemuda muslim terhadap kondisi yang mereka lihat di sekitar. Banyak di antara kita yang membaca Al-Qur'an, tapi tidak mengerti isinya. Ada yang menghafal, tapi tidak bertahan lama. Tidak sedikit pula yang membaca dan menghafal banyak ayat, tapi sama sekali tidak berpengaruh pada kualitas hidupnya.
Padahal, jika Al-Qur'an benar-benar diamalkan dalam kehidupan, kejayaan peradaban Islam sebagaimana masa keemasan beberapa abad silam adalah suatu keniscayaan.
April 2020
Guidelight didirikan oleh Ahmad Safe'i Ridwan, Nur Rizkya Hanifa, dan Resky Syam — bermula dari keinginan membuat "project abadi" sebagai wadah melanjutkan misi dakwah setelah kepengurusan di LDK Salam UI.
Project ini kemudian menemukan bentuknya: fokus pada pendidikan Al-Qur'an. Mengutip dari Ustadz Nouman Ali Khan, "tidak semua muslim harus menjadi ulama, tetapi semua muslim harus terdidik" — maka perlu ada tingkatan minimum dalam pendidikan Islam kita.
Berdasarkan skala prioritas, salah satu upaya menjadi seorang muslim yang lebih baik adalah meningkatkan kualitas ber-Qur'an. Caranya? Fokus pada satu surah, baca, pelajari tafsirnya, renungi hikmahnya, hafalkan, lalu amalkan. Begitulah muslim akan menjadi versi terbaiknya dengan implementasi ilmu menjadi amal.
Di sinilah Indonesia Guidelight Project hadir — komunitas yang didesain khusus untuk memfasilitasi muslim Indonesia yang ingin meningkatkan kualitas ber-Qur'annya.

